DAPUR KELUARGA DAN KESEHATAN

Monday, April 9, 2018

Cara Membuat Jilbab Segitiga

Cara Membuat jilbab segitiga ?....
Mau bikin jilbab besar tapi irit bahan? bikin aja jilbab segitiga… kain yg dibutuhkan cuma 1,5 m x 1,5m aja… Jilbab ini lebarnya hampir sama seperti jilbab bundar selutut, padahal untuk membuat jilbab bundar selutut kain yang membutuhkan adalah 2,25 meter.
Jika kita andaikan harga kain yang kita gunakan adalah Rp. 20 ribu per meter, maka untuk membuat jilbab segitiga ini hanya memerlukan 1,5 meter atau Rp. 30 ribu aja… sedangkan untuk membuat jilbab bundar selutut diperlukan 2,25 meter atau Rp. 45 ribu. Jadi ada selisih 15 ribu dengan ukuran jilbab yang hampir sama…
Jilbab ini bagian depan berbentuk melingkar seperti jilbab bundar, panjangnya kira2 selutut bagi akhwat yang tingginya sekitar 150-160 cm. Adapun bagian belakang jilbab  berbentuk segitiga, panjangnya kurang lebih sebetis atau hampir semata kaki. Bagian samping jilbab sedikit lebih pendek tapi sudah bisa menutupi tangan.
Mau tau cara buatnya? Ikuti langkah2nya sebagai berikut :
1. Siapkan kain berbentuk persegi ukuran 150 cm x 150 cm.
2. Lalu gunting seperti yang ditandai garis putus2 pada gambar:
3. Kain jadi terdiri dari 2 potong, kita sebut saja bagian yg besar sebagai bagian 1 dan bagian segitiga sebagai bagian 2.
4. Lipat bagian 1 jadi dua seperti pada gambar & jahit seperti yang ditandai pada gambar (garis putus2 hijau), dan sisakan kira2 25 cm untuk lingkar wajah.
5. Hasilnya bila dibuka akan tampak seperti pada gambar:
6. Lalu jahit tepi lingkar wajahnya sebagaimana gambar dibawah:
7. Tempelkan bagian 1 dengan bagian 2 seperti pada gambar, lalu gunting bagian tepinya bentuk melingkar seperti pada gambar, lalu jahit bagian 1 dengan bagian 2 seperti garis putus-putus hijau pada gambar:
8. Sehingga hasilnya:
Catatan: ana sarankan gunakan kain polos yang seratnya tidak terlalu kelihatan, karena kalau serat kainnya terlihat nanti hasil sambungan bagian 1 dan bagian 2 akan terlihat belang.
9. Finishingnya tinggal bagian bawahnya di neci dan… selesai!
hasilnya jika dipakai akan tampak seperti dibawah ini:
Jilbab ini tanpa penutup jidat… cara memakainya adalah dengan melipat dua sisi bagian kepala kedalam… Tapi bagi yang ingin memakai penutup jidat bisa juga ditambahkan dengan cara seperti pada cara membuat jilbab bundar di postingan terdahulu..
Selamat mencoba… semoga Alloh memudahkan…








Wednesday, March 14, 2018

Bingung dengan resep lauk telur?

Terkadang kita bingung dengan resep olahan telur yang itu itu saja.goreng telur mata sapi.telur kocok ..dan lain lain yang simple.
Kali ini saya punya ide yg cukup sehat.sekali gayung dua pulau terlampaui.yah kita bisa mendapatkan.protein dari telur dan sekaligus bisa makan sayur hanya dengan memakan satu menu makanan.yaitu:
GORENG TELUR BAYAM.
Bahan:
-3 butir telur ayam ( sedang).
-1 ikat bayam sekul.
-minyak untuk mengoreng.
-1sdm tepung maizena.
-kaldu ayam secukupnya.
-garam secukupnya.
-minyak wijen(pengharum).





Cara membuat:
1.rebus (blanc)sayur bayam kira kira.    2 menit.tiriskan dan biarkan dingin.
2.setelah dingin peras sayur bayam yang sudah diblanc hingga tidak ada air.
3.potong kecil kecil seperti bentuk cacahan.
4.tambahkan kaldu ayam,garam tepung maixena,minyak wijen,secukupnya menurut rasa selera anda.aduk rata.
5. Kocok 3 telur ayam dalam wadah lain setelah teraduk ratA tuangkan dalam cacahan bayam dan aduk rata.
6.goreng adonan seperti mengoreng telur dadar berupa lembaran dengan api sedang agar telur terasa lembut. Setelah matang potong sesuka selera anda.
Selamat mencoba!!!!!!!!...

Tuesday, March 6, 2018

Pola Dasar jubah akhwat

Pola Dasar Jubah Akhwat
Cara Mengukur
Sebelum membuat pola jubah/gamis akhwat terlebih dahulu kita melakukan pengukuran. Sebelum mengukur ikatkan seutas tali yang lemas di sekeliling pinggang. Lingkaran tali di sekeliling pinggang tersebut akan menjadi patokan yang dapat membantu proses pengukuran bagian tertentu, misalnya lingkar pinggang, permulaan panjang rok, dan sebagainya.
Ukuran yang diperlukan :
Lingkar badan : diukur pada bagian badan belakang, melalui ketiak hingga melingkari payudara, diambil angka pertemuan meteran dalam keadaan pas. Tambahkan 4 cm pada hasil ukurannya.
Lingkar leher : diukur keliling leher, diambil angka pertemuan meteran pada lekuk leher depan bagian bawah.
Lingkar pinggang : diukur pada bagian pinggang , diambil angka pertemuan meteran dalam keadaan pas. Tambahkan 4 cm pada hasil ukurannya.
Lingkar pinggul : diukur bagian pinggul yang terbesar, dari ukuran pas ditambah kurang lebih 4 cm
Lebar bahu : diukur dari batas leher sampai bagian bahu yang terendah (pangkal lengan)
Panjang dada : diukur dari titik C ke bawah sampai dengan batas pinggang
Lebar dada : dibawah lekuk leher turun 5 cm, diukur mendatar dari kerung lengan sebelah kiri sampai kerung lengan sebelah kanan
Panjang punggung : diukur pada bagian punggung, dari ruas tulang leher yang menonjol di pangkal leher, turun ke bawah sampai batas pinggang bagian belakang
Lebar punggung :dari ruas tulang leher turun kurang lebih 8 cm, diukur dari kerung lengan sebelah kiri sampai kerung lengan sebelah kanan
Panjang sisi : diukur dari lengan ke bawah sampai dengan batas pinggang
Panjang jubah : diukur dari leher ke bawah sampai kaki
Tinggi pinggul : diukur dari pinggul yang terbesar ke atas sampai pinggang
Lingkar kerung lengan : diukur pada keliling kerung lengan dalam keadaan pas, tambahkan 4 cm pada hasil ukurannya
Panjang lengan : diukur dari ujung bahu/ pangkal lengan ke bawah, sampai kurang lebih 2 cm di bawah ruas pergelangan tangan atau sepanjang yang diinginkan.
Lingkar pergelangan : diukur pada keliliing ujung lengan ditambah 4 cm pada pengukurannya
Lingkar siku : diukur pada keliling siku ditambah 10 cm pada pengukurannya
Panjang siku : diukur dari ujung bahu/ pangkal lengan ke bawah sampai siku
Daftar ukuran standart
Untuk membuat jubah yang sesuai dengan ukuran badan masing-masing memang diperlukan pengukuran sendiri seperti cara di atas. Namun jika ukhti tidak bisa melakukan pengukuran sendiri, maka ukhti bisa menggunakan ukuran standar di bawah ini :
Tabel Ukuran Standart
Diantara syarat pakaian muslimah yang syar’i adalah tidak dimaksudkan sebagai perhiasan, maka hal-hal dalam memilih kain yang harus diperhatikan dalam membuat jubah syar’i adalah :
Memanjangkan jubah sampai menutup kaki karena kaki wanita muslimah adalah aurat (para ulama khilaf tentang darimana memanjangkan pakaian wanita sejengkal ataupun sehasta, ada yang berpendapat dipanjangkan dari pertengahan betis, ada juga yang berpendapat dari mata kaki dan ada juga dari telapak kaki. Wallohu A’lam)
Memilih kain yang polos atau tidak bermotif
Memilih kain yang tidak menerawang / transparan
Memilih warna yang tidak mencolok
Jubah tidak diberi hiasan-hiasan seperti bordir, renda, dll
Pola dasar Jubah akhwat
Berikut ini adalah teori membuat pola dasar jubah akhwat. Pola terdiri dari pola jubah bagian depan, pola jubah bagian belakang dan pola lengan.
Ukuran yang ana pakai adalah ukuran standar M.
Adapun ukurannya adalah sebagai berikut :



Lingkar badan : 90
Lingkar leher : 36
Lingkar pinggang : 72
Lingkar pinggul : 96
Lebar bahu : 12,5
Panjang dada : 33
Lebar dada : 33
Panjang punggung : 37
Lebar punggung : 35
Panjang sisi : 17
Panjang jubah : 130
Tinggi pinggul : 18
Lingkar kerung lengan = 44
Panjang lengan = 55
Panjang siku 30
Lingkar siku = 30
Lingkar pergelangan = 20
Pola depan :
Pola Depan
A-B : 1/6 lingkar leher + ½ cm
A-C : 1/6 lingkar leher +2 cm
Hubungkan titik B-C dengan garis putus-putus menjadi kerung leher awal
B-D : lebar bahu
D-E : 3 1/2 cm
B-E = BD
C-F = panjang dada
F-G = panjang sisi
C-H = ½ C-G
H-I = ½ lebar dada
G-J = ¼ lingkar badan + 1 cm
Hubungkan titik E – I –J dengan garis putus-putus menjadi kerung lengan badan depan awal
F–K = ¼ lingkar pinggang + 4
F-F’ = turun 1 ½ cm
F’-L = tinggi pinggul
A-N = panjang jubah
L–M = ¼ lingkar pinggul + 1 cm
N-O = L-M
O-P = 3 cm
Titik P naik 1 ½ cm
P-P’ = 12 cm
B-B’ = 2
C-Q = 3
Q-Q’ = 2
Hubungkan titik B’-Q’ menjadi kerung leher jubah
E-E’ naik 1 cm
B’-E’ = lebar bahu
J-J’ = 3
Hubungkan E’J’ sebagai kerung lengan badan depan jubah
Tarik garis lurus J’-P’
Pola belakang
Pola Belakang
A-B= 1/6 lingkar leher + ½ cm
A-C = turun 2 cm
Hubungkan B-C sebagai kerung leher
B-D= lebar bahu
D-E= turun 3 ½ cm
B-E= B-D
C-F= panjang punggung
F-G = panjang sisi
C-H = ½ C-G
H-I = ½ lebar punggung
G-J = ¼ lingkar badan -1 cm
F-K = 1/4 Lingkar pinggang +2
Hubungkan E-I-J sebagai kerung lengan
A-N = panjang jubah – 1 cm sampai 1 ½ cm
F-F’ = turun 1 ½ cm
F’-L = tinggi pinggul
L-M = ¼ lingkar pinggul – 1 cm
N-O = L-M
O-P = 3 cm
P naik 1 ½ cm
B-B’ = 2 cm
C-C’ = 2 cm
Hubungkan titik B’-C’
E-E’ naik 1 cm
B’-E’ = panjang bahu
J-J’ = 3 cm
Hubungkan titik E’-J’
P-P’ = 8 cm
Hubungkan titik J’-P’
Pola lengan :
Pola Lengan
A-B = ¼ lingkar kerung lengan + 1 ½ sampai 2 ½
A-E= Panjang siku
A-F = panjang lengan
A-D = A-C = ½ lingkar kerung lengan
Kerung lengan atas
A-D dibagi 4 bagian yang sama
Titik N naik 1 ½ cm dan titik P turun 1 ½ cm
Garis yang menghubungkan titik A-N-O-P-D adalah kerung lengan depan
Kerung lengan belakang
A-C dibagi 3 bagian yang sama besar
L-M = naik 2 cm
R = turun ½ cm
Garis yang menghubungkan titik A-M-K-R-C adalah kerung lengan belakang
E-I = E-J = ½ lingkar siku
F-G = F-H = ½ lingkar pergelangan
Hubungkan titik C-I-G dan titik D-J-H



Demikian cara membuat pola dasar jubah akhwat. Adapun untuk membuat jubah dengan berbagai model maka ukhti bisa mengembangkan sendiri pola tersebut.
Untuk latihan, bisa buat pola yang sederhana seperti : jubah anak. Langkah-langkahnya ada di [link ini].
Selamat mencoba…




Obat Radang Tenggorokan Tradisional Paling Ampuh

Rasa sakit pada tenggorokan merupakan gejala adanya penyakit pada saluran pernapasan. Salah satunya adalah penyakit radang tenggorokan. Mungkin banyak yang menganggap bahwa ini adalah penyakit sepele. Namun jika terus dibiarkan akan berakibat fatal.

Secara medis, radang tenggorokan adalah suatu kondisi ketika tenggorokan terinfeksi bakteri. Kondisi ini menyebabkan tenggorokan mengalami iritasi, peradangan, suara serak, batuk, gatal dan terasa sakit saat menelan.

Penyebab Radang Tenggorokan

Bakteri Streptococcus Pyogenes yang dikenal juga sebagai kelompok streptokokus A, merupakan penyebab umum dari penyakit radang tenggorokan. Jenis bakteri ini sangat menular dan dapat menyebar melalui udara ketika Anda batuk dan bersin. Selain itu, bakteri ini juga dapat menyebar melalui makanan, minuman, atau barang-barang yang sudah terinfeksi oleh jenis bakteri ini.

Gejala Radang Tenggorokan

Tanda-tanda umum yang muncul ketika seseorang mengalami radang tenggorokan, antara lain sebagai berikut:
  • Tenggorokan terasa sakit
  • Amandel membengkak dan berwarna merah. Terkadang ada bercak putih dan lapisan nanah pada amandel
  • Ada bintik-bintik merah kecil di bagian belakang atap mulut
  • Kesulitan menelan, bahkan air liur sekalipun
  • Kelenjar getah bening pada leher membengkak
  • Demam tinggi, biasanya lebih dari 38,3 derajat Celcius (101 derajat Fahrenheit)
  • Sakit kepala
  • Ruam
  • Badan terasa lelah
  • Nyeri atau bengkak pada sendi
  • Perut terasa sakit dan terkadang disertai dengan muntah

Itu merupakan gejala paling umum terjadi pada penderita radang tenggorokan. Tapi bisa saja gejala tersebut merupakan pertanda dari penyakit lain.

Cara Mengobati Radang Tenggorokan


Berikut ini bahan-bahan alami yang bisa Anda gunakan sebagai obat radang tenggorokan tradisional:


Anda bisa menambahkan satu inci potong jahe yang dimemarkan kemudian rebus selama dua hingga menit. Lalu, campur dengan teh yang telah Anda buat sebelumnya.

2. Teh chamomile

Teh chamomile hangat juga dapat mengurangi sakit tenggorokan karena bisa mengatasi peradangan. Seduh dua kantung teh chamomile dengan satu cangkir air mendidih. Jika ingin mendapat rasa manis, Anda bisa menambahkan madu.

3. Kumur dengan campuran kunyit, air, dan garam

Ini adalah obat rumahan yang sangat efektif untuk menghilangkan rasa sakit pada tenggorokan. Ditambah lagi, bahan-bahan yang diperlukan pasti selalu tersedia di dapur Anda. Campurkan satu sdt garam dan sejumput kunyit dengan 200 ml air hangat kemudian berkumurlah beberapa kali sehari.


 


4. Daun Kemangi

Rebus daun kemangi dan minumlah air rebusannya. Atau cukup berkumur dengan air rebusan kemangi akan membuat sakit tenggorokan Anda membaik.

5. Madu dan lemon

Minumlah secangkir air hangat yang dicampur dengan satu sdm lemon dan satu sdm madu. Campuran ini dikenal sebagai obat ampuh untuk atasi sakit tenggorokan. Jika tidak ada lemon, satu sdm madu tanpa tambahan air juga bisa mengurangi sakit tenggorokan karena madu adalah antibiotik alami. Tapi sebaiknya madu tidak diberikan pada anak-anak di bawah usia dua tahun.

6. Menghirup uap panas

Obat kuno untuk mengatasi sakit tenggorokan adalah menghirup uap. Taruh air panas dalam panci lalu letakkan di depan Anda. Pakailah handuk di kepala untuk mencegah uap menyebar. Hirup uap dari panci tak hanya melalui hidung tapi sesekali juga melalui mulut.

7. Konsumsi Sup

Saat tenggorokan sakit, biasanya kita akan sulit makan dan menelan. Oleh karena itu, cobalah mengkonsumsi sup misalnya sup ayam yang hangat dengan rasa sedikit agak asam. Itu tidak hanya meringankan rasa sakit tapi juga memastikan Anda mendapat nutrisi untuk melawan peradangan.

8. Minum jus lemon tanpa gula

Campurkan 2 sendok makan jus lemon (dari perasan 1/2 lemon) ke dalam segelas air hangat. Jangan tambahkan gula. Minumlah 2-3 kali sehari dalam keadan perut kosong (sekitar 30-60 menit sebelum makan).

9. Makan bawang putih

Bawang putih mengandung senyawa bernama allicin yang merupakan agen pembunuh bakteri. Jadi cobalah mengunyah bawang putih agar mengeluarkan senyawa allicin demi mengatasi radang tenggorokan.

10. Jus buah belimbing

Buah belimbing ternyata memiliki khasiat sebagai anti-radang yang bisa digunakan untuk mengobati radang tenggorokan. Caranya ambil 100 gram buah belimbing manis, lalu dibuat jus dan diminum. 

Mengobati Radang tenggorokan dengan cengkih (cengkeh)Cengkih atau cengkeh merupakan salah satu bahan herbal yang baik untuk megobati sakit tenggorokan. Cara Membuatnya cukup mudah. Siapkan serbuk cengkih sebanyak 1-2 sendok teh dan setengah gelas air matang. Campurkan cengkih dan air,pergunakan campuran serbuk cengkeh dan air tersebut untuk berkumur. Cengkih mempunyai sifat antibakteri dan anti radang yang dapat membantu meredakan sakit tenggorokan.

Beberapa hal yang perlu Anda lakukan jika terserang radang tenggorokan adalah istirahat yang cukup, banyak minum air putih agar kelembaban tetap terjaga dan hindari rokok. Semoga bermanfaat.

Friday, February 17, 2017

Ayam goreng tepung

Resep Ayam Goreng Tepung - Ayam berlapis tepung ini pastinya jadi favorit seluruh keluarga. Sebaiknya goreng saat akan dimakan agar rasanya renyah gurih, kres-kres garing!
Bahan Ayam Goreng Tepung:
1 ekor ayam negeri, potong 8 bagian
2 siung bawang putih, parut
½ sdt jahe parut
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam
2 putih telur ayam, kocok hingga berbuih
minyak goreng
Aduk rata:
100 g tepung terigu
2 sdm tepung beras
1 sdm tepung maizena
1 sdt baking powder
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam
Cara membuat Ayam Goreng Tepung:
Aduk bawang putih, jahe, merica dan garam hingga rata.
Lumuri ayam dengan campuran bumbu hingga rata.
Celupkan dalam putih telur lalu gulingkan dalam campuran tepung hingga rata.
Panaskan minyak banyak di atas api sedang.
Goreng ayam hingga kering dan matang.
Angkat dan tiriskan.
Untuk 6 orang

Saturday, January 19, 2013

Adap makan.

«【 ADAP MAKAN PENUH BAROKAH 】».





Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berkuliner ria sungguh menyenangkan. Bisa menyantap berbagai menu masakan setiap harinya dengan berbagai variasi benar-benar sesuatu hal yang menyenangkan hati sebagian orang. Namun satu hal yang patut diingat seorang muslim bahwasanya dalam kita menyantap makanan, Islam telah memberikan kita contoh bagaimanakah adab yang harus dilakukan. Dengan melakukan adab ini, acara santap makan yang awalnya sekedar untuk mengenyangkan perut dan menguatkan badan, tentu akan lebih bertambah berkah (barokah). Kebaikan yang banyak akan diperoleh saat itu karena merutinkan adab dalam makan ini. Ditambah lagi ia akan lepas dari gangguan musuhnya yaitu setan ketika ia menyantap secuil makanan. Apa sajakah adab-adab makan yang diajarkan oleh Islam? Berikut beberapa adab di antaranya:

Pertama: Mengucapkan tasmiyah

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
"Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta'ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)’."[1]

Dari Hudzaifah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ
"Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya.”[2]

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan tasmiyah ketika makan adalah bacaan ‘bismillah’.”[3] Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika disebut tasmiyah, maka yang dimaksud adalah ucapan “bismillah”. Sedangkan jika disebut basmalah, maka yang dimaksud adalah ucapan “bismillahir rohmaanir rohiim”.[4] Al Fakihaani rahimahullah mengatakan, “Tidak perlu menambahkan ‘ar rohman ar rohiim’. Namun jika terlanjur mengucapkannya,maka tidak kena dosa apa-apa.”[5]

Kedua: Makan dengan tangan kanan

Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat,
« إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».
"Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kirinya pula."[6]

Ketiga: Tidak makan yang di hadapan orang lain (ketika makan dalam satu nampan)

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu."[7]

Keempat: Makan dari sisi luar (pinggir), tidak dari tengah

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ
“Barokah itu turun di tengah-tengah makanan, maka mulailah makan dari pinggirnya dan jangan memulai dari tengahnya.”[8]

Kelima: Tidak makan dalam keadaan bersandar

Dari hadits Abu Juhaifah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَمَّا أَنَا فَلاَ آكُلُ مُتَّكِئًا
“Adapun saya tidak suka makan sambil bersandar.”[9] Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa bersandar di sini sifatnya umum, tidak dikhususkan bentuk bersandar dengan sifat tertentu.[10]

[1] HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih
[2] HR. Muslim no. 2017
[3] Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/521, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[4] Al Futuhaat Ar Robbaniyah ‘ala Adzkar An Nawawiyah, Ibnu ‘Allan, 5/120, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah,cetakan pertama, 1424 H.
[5] Al Futuhaat Ar Robbaniyah ‘ala Adzkar An Nawawiyah, 5/128-129.
[6] HR. Muslim no. 2020
[7] HR. Bukhari no. 5376
[8] HR. Tirmidzi no. 1805 dan Ibnu Hibban no. 5245. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
[9] HR. Tirmidzi no. 1830 dan Ibnu Hibban no. 5240. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
[10] Tuhfatul Ahwadzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 5/454

Keenam: Tidak menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai

Dari Abu Hurairah, ia berkata,
مَا عَابَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Tidaklah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencela suatu makanan sekali pun dan seandainya beliau menyukainya maka beliau memakannya dan bila tidak menyukainya beliau meninggalkannya(tidak memakannya).”[1]

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang telah menjelek-jelekkan makanan yang ia tidak sukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.”[2]

Ketujuh: Makan secara bersama-sama dan tidak makan sendirian

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?" Beliau bersabda, "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya."[3]

Ibnu Baththol berkata, “Makan secara bersama-sama adalah salah satu sebab datangnya barokah ketika makan.”[4]

Kedelapan: Tidak membiarkan suapan makanan yang terjatuh

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَافَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَاوَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
“Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambilah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan setan.”[5]

Kesembilan: Menjilat tangan sebelum mencuci atau mengusapnya

Lanjutan dari hadits Jabir sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ
“Janganlah dia sapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah.”[6]

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Menjilat jari (seusai makan) adalah sesuatu yang disyari’atkan (dianjurkan). Alasannya sebagaimana yang disebutkan di akhir hadits, yaitu karena orang yang makan tidak mengetahui di manakah barokah yang ada pada makanannya. Makanan yang disajikan pada orang yang makan benar-benar ada barokahnya. Namun tidak diketahui apakah barokahnya ada pada makanan yang dimakan, atau pada makanan yang tersisa pada jari atau pada mangkoknya, atau pada suapan yang terjatuh. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seseorang memperhatikan ajaran ini agar ketika makan pun bisa meraih barokah. Pengertian barokah pada asalnya adalah bertambahnya dan tetapnya kebaikan serta mendapatkan kesenangan dengannya.”[7]

An Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dibolehkan mengusap tangan dengan serbet, namun yang sesuai sunnah (ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) dilakukan setelah menjilat jari.[8]

Kesepuluh: Memuji Allah dan berdo’a seusai makan

Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath'amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu."[9]

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah”setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah)sesudah makan dan minum”[10]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah”saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.”[11]

Kesebelas: Mendo’akan orang yang menyajikan makanan

Do’a yang bisa dibaca:
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku][12]

Keduabelas: Mencuci tangan untuk membersihkan sisa-sisa makanan

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا بَاتَ أَحَدُكُمْ وَفِى يَدِهِ غَمَرٌ فَأَصَابَهُ شَىْءٌ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
“Jika salah seorang dari kalian tidur dan di tangannya terdapat minyak samin (sisa makanan) kemudian mengenainya, maka janganlah mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”[13]

Moga dengan adab-adab yang kami sajikan ini, rutinitas makan kita bukan hanya ingin menguatkan badan saja, namun bisa bernilai ibadah dan mendapatkan barokah, yaitu kebaikan yang melimpah dari sisi Allah. Wallahu waliyyut taufiq.

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

-Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat-

[1] HR. Bukhari no. 5409.
[2] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 18/93
[3] HR. Abu Daud no. 3764. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[4] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 18/121
[5] HR. Muslim no. 2033
[6] HR. Muslim no. 2033
[7] Nailul Author, Muhammmad bin ‘Ali binn Muhammad Asy Syaukani, Idarotu Thoba’ah Al Maniriyah, 9/34
[8] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 13/204-205
[9] HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
[10] HR. Muslim no. 2734
[11] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/51.
[12] HR. Muslim no. 2055.
[13] HR. Ahmad 2/344. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.

Sumber: www.rumaysho.com