DAPUR KELUARGA DAN KESEHATAN

Friday, February 17, 2017

Ayam goreng tepung

Resep Ayam Goreng Tepung - Ayam berlapis tepung ini pastinya jadi favorit seluruh keluarga. Sebaiknya goreng saat akan dimakan agar rasanya renyah gurih, kres-kres garing!
Bahan Ayam Goreng Tepung:
1 ekor ayam negeri, potong 8 bagian
2 siung bawang putih, parut
½ sdt jahe parut
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam
2 putih telur ayam, kocok hingga berbuih
minyak goreng
Aduk rata:
100 g tepung terigu
2 sdm tepung beras
1 sdm tepung maizena
1 sdt baking powder
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam
Cara membuat Ayam Goreng Tepung:
Aduk bawang putih, jahe, merica dan garam hingga rata.
Lumuri ayam dengan campuran bumbu hingga rata.
Celupkan dalam putih telur lalu gulingkan dalam campuran tepung hingga rata.
Panaskan minyak banyak di atas api sedang.
Goreng ayam hingga kering dan matang.
Angkat dan tiriskan.
Untuk 6 orang

Saturday, January 19, 2013

Adap makan.

«【 ADAP MAKAN PENUH BAROKAH 】».





Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berkuliner ria sungguh menyenangkan. Bisa menyantap berbagai menu masakan setiap harinya dengan berbagai variasi benar-benar sesuatu hal yang menyenangkan hati sebagian orang. Namun satu hal yang patut diingat seorang muslim bahwasanya dalam kita menyantap makanan, Islam telah memberikan kita contoh bagaimanakah adab yang harus dilakukan. Dengan melakukan adab ini, acara santap makan yang awalnya sekedar untuk mengenyangkan perut dan menguatkan badan, tentu akan lebih bertambah berkah (barokah). Kebaikan yang banyak akan diperoleh saat itu karena merutinkan adab dalam makan ini. Ditambah lagi ia akan lepas dari gangguan musuhnya yaitu setan ketika ia menyantap secuil makanan. Apa sajakah adab-adab makan yang diajarkan oleh Islam? Berikut beberapa adab di antaranya:

Pertama: Mengucapkan tasmiyah

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
"Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta'ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta'ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)’."[1]

Dari Hudzaifah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لاَ يُذْكَرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ
"Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya.”[2]

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan tasmiyah ketika makan adalah bacaan ‘bismillah’.”[3] Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika disebut tasmiyah, maka yang dimaksud adalah ucapan “bismillah”. Sedangkan jika disebut basmalah, maka yang dimaksud adalah ucapan “bismillahir rohmaanir rohiim”.[4] Al Fakihaani rahimahullah mengatakan, “Tidak perlu menambahkan ‘ar rohman ar rohiim’. Namun jika terlanjur mengucapkannya,maka tidak kena dosa apa-apa.”[5]

Kedua: Makan dengan tangan kanan

Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat,
« إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ ».
"Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kirinya pula."[6]

Ketiga: Tidak makan yang di hadapan orang lain (ketika makan dalam satu nampan)

Dari ‘Umar bin Abi Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu."[7]

Keempat: Makan dari sisi luar (pinggir), tidak dari tengah

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْبَرَكَةَ تَنْزِلُ وَسَطَ الطَّعَامِ فَكُلُوا مِنْ حَافَتَيْهِ وَلاَ تَأْكُلُوا مِنْ وَسَطِهِ
“Barokah itu turun di tengah-tengah makanan, maka mulailah makan dari pinggirnya dan jangan memulai dari tengahnya.”[8]

Kelima: Tidak makan dalam keadaan bersandar

Dari hadits Abu Juhaifah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَمَّا أَنَا فَلاَ آكُلُ مُتَّكِئًا
“Adapun saya tidak suka makan sambil bersandar.”[9] Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa bersandar di sini sifatnya umum, tidak dikhususkan bentuk bersandar dengan sifat tertentu.[10]

[1] HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih
[2] HR. Muslim no. 2017
[3] Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/521, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379.
[4] Al Futuhaat Ar Robbaniyah ‘ala Adzkar An Nawawiyah, Ibnu ‘Allan, 5/120, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah,cetakan pertama, 1424 H.
[5] Al Futuhaat Ar Robbaniyah ‘ala Adzkar An Nawawiyah, 5/128-129.
[6] HR. Muslim no. 2020
[7] HR. Bukhari no. 5376
[8] HR. Tirmidzi no. 1805 dan Ibnu Hibban no. 5245. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
[9] HR. Tirmidzi no. 1830 dan Ibnu Hibban no. 5240. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.
[10] Tuhfatul Ahwadzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 5/454

Keenam: Tidak menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai

Dari Abu Hurairah, ia berkata,
مَا عَابَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Tidaklah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencela suatu makanan sekali pun dan seandainya beliau menyukainya maka beliau memakannya dan bila tidak menyukainya beliau meninggalkannya(tidak memakannya).”[1]

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang telah menjelek-jelekkan makanan yang ia tidak sukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.”[2]

Ketujuh: Makan secara bersama-sama dan tidak makan sendirian

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ إِذَا كُنْتَ فِى وَلِيمَةٍ فَوُضِعَ الْعَشَاءُ فَلاَ تَأْكُلْ حَتَّى يَأْذَنَ لَكَ صَاحِبُ الدَّارِ.
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?" Beliau bersabda, "Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya."[3]

Ibnu Baththol berkata, “Makan secara bersama-sama adalah salah satu sebab datangnya barokah ketika makan.”[4]

Kedelapan: Tidak membiarkan suapan makanan yang terjatuh

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَافَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَاوَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
“Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, ambilah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Jangan dibiarkan suapan tersebut dimakan setan.”[5]

Kesembilan: Menjilat tangan sebelum mencuci atau mengusapnya

Lanjutan dari hadits Jabir sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَلاَ يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى فِى أَىِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ
“Janganlah dia sapu tangannya dengan serbet sebelum dia jilati jarinya. Karena dia tidak tahu makanan mana yang membawa berkah.”[6]

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Menjilat jari (seusai makan) adalah sesuatu yang disyari’atkan (dianjurkan). Alasannya sebagaimana yang disebutkan di akhir hadits, yaitu karena orang yang makan tidak mengetahui di manakah barokah yang ada pada makanannya. Makanan yang disajikan pada orang yang makan benar-benar ada barokahnya. Namun tidak diketahui apakah barokahnya ada pada makanan yang dimakan, atau pada makanan yang tersisa pada jari atau pada mangkoknya, atau pada suapan yang terjatuh. Oleh karena itu, sudah sepatutnya seseorang memperhatikan ajaran ini agar ketika makan pun bisa meraih barokah. Pengertian barokah pada asalnya adalah bertambahnya dan tetapnya kebaikan serta mendapatkan kesenangan dengannya.”[7]

An Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dibolehkan mengusap tangan dengan serbet, namun yang sesuai sunnah (ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) dilakukan setelah menjilat jari.[8]

Kesepuluh: Memuji Allah dan berdo’a seusai makan

Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath'amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu."[9]

Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah”setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya Allah Ta'ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah)sesudah makan dan minum”[10]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah”saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.”[11]

Kesebelas: Mendo’akan orang yang menyajikan makanan

Do’a yang bisa dibaca:
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku][12]

Keduabelas: Mencuci tangan untuk membersihkan sisa-sisa makanan

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا بَاتَ أَحَدُكُمْ وَفِى يَدِهِ غَمَرٌ فَأَصَابَهُ شَىْءٌ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
“Jika salah seorang dari kalian tidur dan di tangannya terdapat minyak samin (sisa makanan) kemudian mengenainya, maka janganlah mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”[13]

Moga dengan adab-adab yang kami sajikan ini, rutinitas makan kita bukan hanya ingin menguatkan badan saja, namun bisa bernilai ibadah dan mendapatkan barokah, yaitu kebaikan yang melimpah dari sisi Allah. Wallahu waliyyut taufiq.

Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

-Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat-

[1] HR. Bukhari no. 5409.
[2] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 18/93
[3] HR. Abu Daud no. 3764. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[4] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 18/121
[5] HR. Muslim no. 2033
[6] HR. Muslim no. 2033
[7] Nailul Author, Muhammmad bin ‘Ali binn Muhammad Asy Syaukani, Idarotu Thoba’ah Al Maniriyah, 9/34
[8] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 13/204-205
[9] HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan
[10] HR. Muslim no. 2734
[11] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/51.
[12] HR. Muslim no. 2055.
[13] HR. Ahmad 2/344. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.

Sumber: www.rumaysho.com

Tuesday, October 16, 2012

Cara Membuat Pola & Menjahit Cadar Kotak 2 lapis

Cara Membuat Pola & Menjahit Cadar Kotak 2 Lapis

بسم الله الرحمٰن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد

Diantara cadar yang banyak dipakai oleh akhowat dan banyak dijual di pasaran adalah cadar kotak. Cadar ini menurut ana nyaman dipakai karena lebih rekat dan bisa menutupi jidat/dahi, dan pada model cadar kotak ini ana tambahkan kerutan/lipit di bagian hidung untuk lebih memudahkan bernafas.

Cadar kotak terdiri dari dua lapis kain, yaitu lapisan untuk penutup wajah dan lapisan kepala. Cadar kotak bisa juga dilengkapi dengan purdah (kain yang agak transparan untuk menutupi bagian mata) sehingga terdiri dari tiga lapis. Tapi untuk kesempatan kali ini ana akan sharing cara membuat cadar kotak dua lapis tanpa purdah terlebih dahulu. InsyaAlloh kalau ada kesempatan, ana akan share cara membuatkan cadar kotak yang dilengkapi dengan purdah atau model cadar lainnya.

Adapun kain yang dibutuhkan untuk membuat cadar kotak dua lapis adalah 112 x 54 cm, beli aja kain sekitar 60 cm baik yang lebarnya 115 cm atau 150 cm, keduanya cukup untuk bikin cadar ini. Kalau bisa jenis kain & warnanya disamakan dengan jilbabnya, sehingga bisa matching ketika dipakai.

Berikut ini langkah-langkah membuat cadar kotak:

[1] Potong kain berbentuk persegi  dengan ukuran sebagai berikut :

—-Lapisan kepala :

—-panjang = 67 cm

—-lebar = 54 cm (lihat gambar 1)

—-Lapisan wajah :

—-panjang = 45 cm

—-lebar = 42 cm (lihat gambar 2)

Gambar 1, 2, 3 & 4

[2] Setelah dipotong, lalu bagian samping dan bawah kain dineci seperti gambar 3 dan gambar 4.

[3] Gunting bagian tengah atas lapisan wajah yang ditandai pada garis putus2 pada gambar 5, hasilnya dapat dilihat seperti gambar 6.

[4] Bagian yang digunting tersebut dilipit/wiru atau di kerut sehingga panjang menjadi 22 cm sebagaimana gambar 7.

[5] Potong kain panjang 22 cm dan lebar kurang lebih 1,5 cm seperti pada gambar 8.

[6] Jahit dengan bagian yang dilipit tersebut sebagai plisir seperti pada gambar 9.

Gambar 5, 6, 7, 8 & 9

[7] Susun lapisan kepala dan lapisan wajah sebagaimana gambar 10 (lapisan wajah diletakkan agak ke bawah yaitu 6,5 cm dibawah lapisan kepala).

[8] Bagian atas lapisan kepala kemudian dilipat kedalam sepanjang 3,5  cm lalu dijahit dengan bagian pinggir lapisan wajah yang tidak dilipit. Sedangkan bagian tengah yang dilipit tidak ikut dijahit karena sebagai lubang untuk mata. Hasilnya dapat dilihat sebagaimana gambar 11.

[9] Pasang perekat (kretekan) dibagian tepi atas lapisan kepala sebagaimana pada kotak abu-abu dalam gambar 12, dan yang perlu diperhatikan dalam cara memasangnya adalah perekat sebelah kiri dipasang berlawanan arah dengan perekat sebelah kanan; perekat sebelah kanan menghadap ke dalam dan perekat kiri menghadap ke luar, dan… selesai.

Gambar 10, 11 & 12

[10] Hasilnya kurang lebih seperti gambar 13 berikut ini:

Gambar 13

Mudah bukan..!? Selamat mencoba..!!

Cara Memakainya

Pegang kedua ujung cadar, bagian wajah mengahadap ke dalam, lalu dipaskan ke mata.

Setelah itu lingkarkan ke kepala dan direkatkan perekatnya satu sama lain.

Lalu bagian kepala disibakkan ke belakang sehingga seperti pada gambar 13.

Akhir kata, ana nasehatkan kepada akhowat yang telah mengenakan cadar ataupun yang berkeinginan mengenakannya agar banyak-banyak bersabar dalam mengenakannya, karena orang yang mengamalkannya -sedikit atau banyak- akan diuji, baik dengan ejekan/olok-olok dari sebagian orang-orang yang belum memahami syariat ini… dengan ejekan seperti “ninja”, “setan”, “ekstreem”, “teroris”, dan seterusnya… Wallohul Musta’aan.

Karena sesungguhnya orang yang mengamalkan sunnah di zaman dimana sunnah dianggap bid’ah dan bid’ah dianggap sunnah adalah seperti orang yang menggengam bara api, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam:

يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, dimana orang yang bersabar dalam mengamalkan agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” [HR. at-Tirmidzi 2/42, Ibnu Baththoh dalam al-Ibanah 1/173/2, dishohihkan al-Albani dalam ash-Shohihah no. 957]

Bersabarlah, insyaAlloh ejekan2 itu hanyalah sementara… kita doakan pada kaum kita tsb sebagaimana yang doa seorang Nabi yang diuji dengan ujian berupa dipukili oleh kaumnya (alhamdulillah ujian memakai cadar tidak sampai separah itu), lalu sambil mengusap darah di wajahnya iapun berdoa:

اللهمَّ اغفر لقومي فإنهم لا يعلمُون

“Ya Alloh, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”





Cara Membuat Cadar Kotak 3 lapis berpurdah( 3 layer niqap)

Cara Membuat Cadar Kotak 3 Lapis Berpurdah (3 Layer Niqab)

Oleh: Ummu Shofiyyah al-Balitariyyah

Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan syari’at hijab bagi kaum muslimah, agar dengannya mereka dapat menjaga aurat dan kehormatan mereka. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Rosululloh yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam, dan keluarga beliau, serta para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka sampai hari kiamat kelak. Amma ba’du:

Melanjutkan praktek membuat cadar kotak yang telah lalu, sekarang ana akan share cara membuat cadar kotak tiga lapis (dengan lapisan purdah) atau biasa disebut 3-layer niqab oleh para akhwat yang berasal dari negara-negara barat.

Cadar berpurdah ini banyak dipakai oleh para akhwat Salafiyyat, terutama di negeri-negeri Arab. Adapun di Indonesia, masih jarang yang memakainya, biasanya dipakai para akhwat di pondok-pondok pesantren bermanhaj Salaf. Dan juga kelihatannya masih ada akhwat maupun ikhwan yang sudah ngaji yang masih “alergi” dengan cadar apalagi purdah ini karena dianggap “menyeramkan” dan lain sebagainya, Allohul Musta’aan…

Baiklah, kita mulai praktek membuat cadar 3 lapis ini…

Cadar ini terdiri dari tiga lapis kain, lapisan kepala, lapisan wajah dan lapisan purdah.

Adapun langkah-langkah membuat cadar ini adalah sebagaimana pada berikut :

[1] Ikuti langkah 1 sampai 6 (gambar 1 sampai 9) pada cara membuat cadar kotak dua lapis yang telah lalu. Kain untuk lapisan wajah dan lapisan kepala yang dibutuhkan adalah sama seperti yang telah lalu :

Lapisan kepala : panjang = 67 cm; lebar = 54 cm

Lapisan wajah : panjang = 45 cm; lebar = 42 cm

Gambar 1, 2, 3 & 4

*** ummushofi.wordpress.com ***

Gambar 5, 6, 7, 8 & 9

[2] Adapun untuk lapisan purdah kain yang dibutuhkan adalah jenis kain yang transparan, biasanya ana memakai bahan Sifon, dengan ukuran sebagai berikut :

___Panjang = 55 cm; Lebar = 42 cm

Sebagaimana lapisan kepala & wajah, bagian bawah dan samping lapisan purdah ini dineci juga, seperti pada gambar di bawah ini:

Lapisan Purdah

[3] Selanjutnya susun lapisan kepala, lapisan purdah dan lapisan wajah sebagaimana pada gambar 10. Lapisan kepala di bagian bawah, lalu lapisan purdah di bagian tengah dan lapisan wajah diletakkan paling atas. Seperti cara yang telah lalu, lapisan wajah dan lapisan purdah diletakkan agak ke bawah yaitu 6,5 cm di bawah lapisan kepala.

Gambar 10, 11 & 12

___Keterangan:

____ . _ . _   = Lipat

___——— = Gunting / potong

[4] Bagian atas lapisan kepala kemudian dilipat kedalam sepanjang 3,5  cm lalu dijahit dengan lapisan purdah dan bagian pinggir lapisan wajah yang tidak dilipit. Sedangkan bagian tengah yang dilipit tidak ikut dijahit karena sebagai lubang untuk mata. Hasilnya dapat dilihat sebagaimana gambar 11.

[5] Pasang perekat (kretekan) dibagian tepi atas lapisan kepala sebagaimana pada kotak abu-abu dalam gambar 12, dan yang perlu diperhatikan dalam cara memasangnya adalah perekat sebelah kiri dipasang berlawanan arah dengan perekat sebelah kanan; perekat sebelah kanan menghadap ke dalam dan perekat kiri menghadap ke luar, dan… selesai.

Hasilnya kurang lebih seperti gambar berikut:

Cadar 3 Lapis (3 Layer Niqab)

Cara memakainya :

Sama persis dengan cadar kotak biasa, bagian lubang mata dipaskan ke mata, lalu kedua ujung perekat (kretekan) dilingkarkan ke kepala dan direkatkan di bagian belakang, lalu kain lapisan kepala disibakkan ke atas & lapisan purdahnya tidak disibakkan ke atas.

Semoga bermanfaat..!!

_______________






Cara membuat jilbab bundar

Alloh berfirman dalam surat Al-Ahzab : 59 :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Terkadang seorang akhwat yang terbiasa menggunakan jilbab besar agak kesulitan mencari jilbab yang sesuai dengan yang diinginkan karena jarang ada toko yang menjualya atau ada tapi jauh atau kebanyakan yang dijual adalah jilbab yang kecil atau ada hiasannya atau.. atau.. wa ila akhirihi…

Sehingga dalam kondisi seperti itu perlu bagi seorang akhwat untuk bisa membuat pakaiannya sendiri.

Membuat jilbab sendiri sebenarnya tidak sulit dan lebih hemat biaya. Berikut ini kami akan menguraikan cara membuat jilbab bundar. Kain yang dibutuhkan adalah kain yang lebarnya 1,5 m sepanjang 2,5 m. Jilbab dengan ukuran ini bila dipakai oleh akhowat yang tinggi badannya sekitar 150 cm panjangnya hampir mencapai mata kaki. kalau mau dikecilkan tinggal disesuaikan ukuran lebar dan panjangnya, tapi kalau mau lebih besar lagi harus mencari kain yang lebarnya lebih dari 1,5 m.

Caranya adalah sebagai berikut :

Bentangkan kain yang lebarnya 1,5 m panjang 2,5 m (gambar 1). Lalu lipat kain menjadi 2 bagian yang sama panjang (gambar 2).

Potong kain secara melengkung seperti pada gambar 3 (tanda garis putus-putus), sehingga menjadi seperti gambar 4.

Jahit bagian tepi seperti pada gambar 5 (tanda garis putus-putus). Bagian tepi tidak dijahit semuanya, tetapi disisakan bagian atas untuk wajah (yaitu ukuran lingkar wajah dibagi dua).

Untuk membuat penutup dahi gunakan sisa kain yang ada. Caranya ukur lebar dahi dan tinggi dahi, lalu lipat kain sisa dan potong elips dengan panjang sama dengan lebar dahi dan lebar sama dengan tinggi dahi seperti gambar 6. Kalau dibuka lipatannya, hasilnya seperti gambar 7.

Lalu tempelkan penutup dahi di bagian dalam jilbab, jahit lingkar muka bersamaan dengan penutup dahi seperti gambar 8.

Kain penutup dahi akan menyisakan kain di bagian atas, bagian ini sebaiknya di-obras (biasanya di toko alat2 jahit). Lalu bagian bawah jilbab di-neci (ini juga biasanya di toko alat2 jahit). Sehingga hasil akhirnya seperti gambar 9.

Untuk kain sisa tadi sebenarnya masih bisa untuk dibuat cadar, tapi agak susah menjelaskannya, mungkin lain kali…

Selamat mencoba!!




Friday, August 10, 2012

Bakso Kuah kari

Bakso kuah kari ini pasti cocok di lidah kita, karena rasanya mirip dengan gulai yang kerap kita santap. Tapi ciri khas karinya tetap ada.

Bahan bola daging:
200 gr daging giling
50 gr ayam giling
1 sdm tepung maizena
1 butir telur
¼ sdt garam
¼ sdt gula pasir
¼ sdt merica bubuk
1 siung bawang putih, cincang halus
½ sdm daun ketumbar, cincang halus
1 bh cabai merah keriting, cincang halus

Bahan:
2 bh cabai merah besar, buang biji, iris halus
2 bh tomat, direbus, buang biji, cincang halus
1 sdt kecap asin
½ sdt garam
¼ sdt merica bubuk
300 ml santan dari ¼ butir kelapa
1 tangkai daun ketumbar, cincang kasar
2 sdm minyak untuk menumis

Bumbu halus:
4 btr bawang merah, cincang halus
2 siung bawang putih, cincang halus
3 bh cabai merah keriting
1 cm lengkuas
1 cm jahe
2 cm kunyit

Bahan pelengkap:
100 kwetiaw kering, rebus

Cara membuat:
1. Campur semua bahan bola daging sampai rata. Bentuk bulat sebesar bakso. Sisihkan.
2. Tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan cabai dan tomat. Tumis sampai layu.
3. Tuang santan, kecap asin, garam, dan merica. Masak sampai mendidih.
4. Masukkan bola daging. Masak di atas api kecil sampai meresap dan kental. Tambahkan daun ketumbar. Aduk rata.
5. Sajikan dengan pelengkap.